Press

Explore Budaya: Hitam Putih Tanah Leluhur



Hi Guys, welcome back.

Zaman sekarang gak bisa ya hidup tanpa teknologi. Barang elektronik udah jadi kebutuhan primer manusia. Fungsinya memang kerasa banget, ngebantu keseharian kita. Mau apa-apa jadi gampang.

Tapi menurutku, kemajuan teknologi gak selalu jadi hal yang positif. Karena semua dipermudah, seringkali manusia jadi lebih malas. Iya kan? Iya aja deh...

Zaman sekarang sudah semakin modern. Ojek online, belanja online, pesan makan online, chat gak dibales-bales padahal online. *eh :))

Apalagi sosial media, bikin ketergantungan. Gak bisa kalo gak main sosmed, hidup penuh gabut alias sepi seakan-akan gak ada aktivitas lain yang bisa dilakuin selain main sosmed. Iya lagi kan? Tuh udah iya aja, cuma suka gak ngeh aja toh.

Gak nimbrung di grup, takut dikatain sombong. Smartphone dianggurin, takut doi ngambek bales chat lama *halah. Sehari gak update instagram, kayaknya gak bisa, gak asik. (lah itu sih elu gin -_-)

Sejujurnya kadang ngerasa capek banget harus standby smartphone terus. Tapi ya mau gimana lagi, media sosial menghubungkan kita dengan manusia lain, dengan pekerjaan, intinya berkaitan erat dengan keseharian (padahal masih suka mager standby smartphone).

                                                                                       ∞   

Saat long weekend hari natal kemarin, aku berencana untuk liburan sekeluarga, but some things happen and i just be like “where is my moneeyy??” (suka se-ekspresif itu sih kadang), terus mama cuma bilang, “udahlah... gak usah liburan-liburan, kayak yang banyak uang aja.”, aku cuma bengong, “iya juga sih.” dalam hati.

Terus libur 4 hari nanti aku mau ngapain? Sayang dong kalo cuma dipake diem di rumah. Pergi keluar paling cuma sehari. Stok buku buat dibaca udah gak ada, mau nulis blog juga belum ada ide.

Akhirnya aku menemukan suatu postingan di instagram dengan judul poster: ‘BaduyTrip. Setiap weekend. 300k include.....’, wah menarik! Anaknya antusias banget sama budaya nih.

Setelah ngobrol via whatsapp dengan beberapa travel agent (sebenarnya ini bukan travel agent sih, apa ya disebutnya, jadi mereka itu beberapa anak muda yang tergabung dalam suatu wadah lalu mengadakan open trip, yaaa kita sebut saja travel agent), yang menawarkan untuk pergi ke baduy dan melihat foto-foto mereka yang sudah pernah datang ke pedalaman baduy serta membaca schedule yang mereka berikan, aku merasa ini jawaban dari awal paragraf diatas. Gak ngerti? Yaudah baca dulu aja sampe akhir, oke? #maksa

                                                                                        ∞   

“Ke baduy? Yakin???”
“Mau ngapain kesana?”, begitu tanya orang-orang kecuali mama. Mama emang paling ngerti deh kemauan dan pemikiran anaknya.

Beberapa hal memunculkan keraguan. Main ke pedalaman Baduy yang terletak di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten ini tidak begitu diinginkan orang-orang, terkait dengan cerita magis, kondisi jalan yang akan dilewati serta lingkungan dan kehidupannya. Ditambah bulan desember yang merupakan musim penghujan, hampir setiap hari hujan turun seharian. Beberapa teman yang diajak untuk ikut serta dalam perjalanan ini, tak kunjung memberi kepastian. Namun, apa boleh buat, kaki ini gatal untuk melangkah. Berangkaaattt....

Hari Jum’at, 21 Desember 2018 sekitar pukul 19.30 aku baru sampai di rumah, pulang dari kantor. Beres-beres dan istirahat sebentar. Pukul 21.30 aku pergi menuju Stasiun Bandung, tak lupa menyiapkan hadiah sederhana buat mama karena besok merupakan hari ibu. :)


karena foto selfie kami hilang, jadi foto ini saja
foto candid dengan kak Toto taken by mama

Kereta berangkat pukul 22.30, aku pergi dari Bandung bersama Kak Toto yang merupakan salah satu tour leader dari travel agent yang aku ikuti. Lalu kita sampai di Stasiun Gambir sekitar pukul 02.00 dini hari, “Yah Ghin, serius pertama kali? Ayo kita muter-muter dulu deh.” Kata kak Toto ngenes, sempet-sempetnya...

Berhubung waktu shubuh masih lama plus ngantuk, kami memilih untuk selonjoran saja di lantai stasiun, mengurungkan niat untuk tidur di kursi tunggu stasiun seperti beberapa orang lainnya, bisa juga aku tidur lelap hahaha

Setelah sholat shubuh, pukul 05.50 kami melanjutkan perjalanan sekitar 15 menit dari Stasiun Gambir ke Stasiun Tanah Abang sebagai meeting pointnya. Sarapan bareng sekaligus ketemuan dengan tour leader sesungguhnya yaitu Kak Gulham dan Kak Deden, lalu berpisah dengan Kak Toto karena dia akan pergi ke Pulau Seribu (jadi kita cuma bareng di perjalanan kereta Bandung-Jakarta dan Jakarta-Bandung).

                                                                                        ∞   

Teman-teman baru yang kebanyakan berasal dari daerah Jakarta ini perlahan datang, sekitar 40 orang dan hanya aku yang berasal dari Bandung. Ketemu salah satu teman SMP yang sudah bertahun-tahun tak bersua, namanya Zam Zam, traveler sejati cinta Indonesia, tapi tetep gak pol karena gak ada foto barengnya, huft.

Naik dari peron 6 dengan KRL, pukul 07.50 kami berangkat dari Stasiun Tanah Abang menuju Rangkas Bitung, Banten. Pukul 10.30 kami sampai di Stasiun Rangkas Bitung. Jalan sedikit, untuk kemudian naik mobil elf dari terminal menuju terminal Desa Ciboleger.

Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, kami break sebentar untuk makan dan sholat. Beberapa orang Baduy ternyata sudah menunggu kami dari tadi, untuk bersama-sama pergi menuju pedalaman suku Baduy. Ternyata bahasa yang dipakai disana adalah bahasa sunda kasar, seperti saat aku dan beberapa teman sedang mengantri untuk mengambil menu makan siang, ibu warteg nyeletuk “Geus nyokot can!? Loba?” hahaha kaget tapi lucu juga sih.





Sekitar pukul 2 siang, kami semua memulai perjalanan dari Desa Ciboleger. Berhubung ransel yang aku bawa ternyata besar banget alias kegedean (padahal hampir semua isinya gak kepake, kocak!), aku memutuskan untuk menyewa porter. Jadi, selain menjadi tour guide, beberapa  orang Baduy menyewakan jasa menjadi pengangkut barang bagi turis yang sekiranya tidak mampu membawa barang dalam perjalanan.  Sampai anak-anak kecilnya pun jadi porter, luar biasa kuat. Biayanya 50 ribu sekali jalan, kalau pulang pergi ya 100 ribu.




Dari awal sebenarnya track yang ada sudah cukup sulit. Namun masih banyak rumah dan orang-orang lokal. Naik dan turun bukit, anak-anak tangga yang seringkali berjarak terlalu berdekatan, bikin kaki jadi lelah dan pegal-pegal. Bentuk bukit yang sangat vertikal, menguras sangat banyak tenaga untuk memboyong berat badan sampai ke atas bukit (gila! ini kayaknya lebih capek dibanding panjat tebing). Persis seperti lagu di film anak-anak, “Mendaki gunung melewati lembah...”.





Tidak terhitung berapa kali kakiku keram dan tak terhitung pula berapa kali aku istirahat di perjalanan. Tapi tidak apa-apa, bersama 2 teman yang berasal dari jogja, posisiku masih di depan dibanding yang lain *jiaaahh... sengaja ambil start paling depan, biar gak ketinggalan rombongan*, untung Mang Aza (orang baduy) selaku tour guide dan porterku selalu setia menemani dan membantu.


                                                                                  ∞   






Suasana pedalaman Baduy mulai terasa saat memasuki area Baduy luar. Tidak ada kendaraan,  banyak rumah tradisional dari bambu, pakaian orang-orang suku Baduy yang berwarna putih dan hitam, ibu-ibu yang sedang me-nenun kain di teras rumah serta oleh-oleh seperti kain baduy yang di gantung untuk diperjual belikan.

Sekitar satu jam setengah lagi kami akan sampai ke Baduy dalam. Sinar matahari benar-benar sudah tak terasa, kami masih di perjalanan. Hari semakin gelap, semakin sepi dan semakin dingin. Suara hembusan angin dan beberapa serangga hutan mengiringi perjalanan kami. Kanan dan kiri jalan ditelusuri oleh jurang. Kami diberitahu sudah tidak diperkenankan lagi mengambil foto dan video.

                                                                                  ∞   

Bentuk penghormatan kepada roh kekuatan alam ini diwujudkan melalui sikap menjaga dan melestarikan alam, yaitu merawat alam sekitar (gunung, bukit, lembah, hutan, kebun, mata air, sungai, dan segala ekosistem di dalamnya), serta memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada alam, dengan cara merawat dan menjaga hutan larangan sebagai bagian dalam upaya menjaga keseimbangan alam semesta.

Inti kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari orang Kanekes (Garna, 1993). Isi terpenting dari 'pikukuh' (kepatuhan) Kanekes tersebut adalah konsep "tanpa perubahan apa pun", atau perubahan sesedikit mungkin. (sumber: wikipedia)
Lojor heunteu beunang dipotong, pèndèk heunteu beunang disambung
(Panjang tidak bisa/tidak boleh dipotong, pendek tidak bisa/tidak boleh disambung)

                                                                                      ∞   

Sekitar pukul 6 sore kami sampai di Baduy dalam. Aku benar-benar merasa sedang ada di pedalaman. Seperti masuk ke dalam satu area pedesaan khusus, rumah-rumah adat yang lebih khas, lebih banyak dan berdekatan satu sama lain serta penduduk yang sangat pemalu bertemu dengan kami para turis lokal terutama penduduk wanitanya. FYI, turis seperti warga negara asing tidak diperbolehkan masuk ke area baduy dalam, hanya diperbolehkan sampai Baduy luar saja.

Perempuan dan laki-laki dibedakan. Kami tinggal di rumah penduduk Baduy dalam. Satu rumah adat dihuni oleh sekitar 10 orang turis. Ternyata ada juga pendatang lain, anak-anak sekolah dari daerah Pandeglang, kalau tidak salah. Aku tinggal di rumah milik Pak Yana beserta keluarganya yang tentunya penduduk asli baduy dalam, bersama sekitar 9 orang lainnya.

Kami sempat bingung apa yang harus kami lakukan karena kami sudah terlalu kelelahan, hanya ingin tidur dan ternyata disana tidak diperbolehkan untuk menggunakan sabun, toilet saja tidak ada apalagi kamar mandi, mmm baiklaaahh... Jadi bagaimana kami mau mandi? Badan sudah berlumur keringat.

Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke sungai yang letaknya tidak jauh dari permukiman setelah ganti baju di ruang ganti yang hanya ditutup oleh kain. Tau gak sih? tempat ganti pakaian yang ada di pasar kosambi atau toko baju kecil-kecilan, yang cuma disediakan space sedikit ditutup hordeng/kain? Iya, kayak gitu aja.

Malam-malam main di sungai hanya untuk sedikitnya membersihkan diri alias cuci muka, tangan dan kaki sebelum tidur dan untuk buang air.

Setelah itu, kami kembali ke rumah, bisikan perut tak bisa dikendalikan. Kami makan malam bersama ala nasi kucing, ditemani teh hangat bersama ikan asin dan sayur asem yang tentunya berbeda dengan sayur asem yang biasanya aku makan, sayur asem disini warnanya lebih bening, rasanya ya tentu asem dan sedikit manis. Nasi kering mah habis juga dimakan kalau lapar. Alhamdulillah..

Setelah perut kenyang apalagi yang harus dilakukan selain tidur, aku lupa jam berapa kami semua mulai tidur, sepertinya sekitar pukul 9 malam, hanya beralas tikar atau sleeping bag. Disana tidak ada kamar tamu, jadi kami ber-sepuluh tidur di ruang tengah, karena memang hanya itu ruang yang tersisa, ruang tengah yang tentunya sangat berbeda dengan ruang tengah di rumahku dan mungkin rumah kalian, berbanding terbalik, tidak ada sofa, kursi pun tidak ada, apalagi tv. Barang-barang elektronik tentunya tidak diperbolehkan disini. Dalam satu rumah hanya ada ruangan besar yang kita sebut ruang tengah itu, tidak ada sekat ke dapur hanya ada sekat dari kamar keluarga Pak Yana di samping kirinya.

                                                                                        ∞   

Sekitar pukul 5 pagi aku bangun karena dibangunin juga sama mbak Tiara, hehehehe. Lalu kita pergi lagi ke sungai bersama beberapa teman lain untuk cuci muka dan gosok gigi, gosok gigi yang hanya mengandalkan jari telunjuk, kenapa gak pake sikatnya aja ya? Kan yang penting gak pakai sabun, duh.

Setelah sholat shubuh dan sarapan, aku bersama mbak Tiara dan temannya yang aku lupa namanya itu hehehe, pergi untuk jalan-jalan sebentar mengelilingi permukiman penduduk. Kami menemukan rumah kepala suku yang ukuran rumahnya lebih besar dan berdiri sendiri terpisah dari rumah penduduk lain dan hanya bisa kami lihat dari kejauhan. Lalu kami menemukan sumber air yang mengalir dari bambu menyerupai keran. Kami mencoba untuk cuci muka menggunakan aliran air tersebut. Gak ada kepercayaan apa-apa sih, yang jelas airnya seger banget banget banget! Hmm.. kayaknya ini yang bikin wanita-wanita Baduy punya aura cantik.

Saat kami sedang asyik main air disana, datang salah satu wanita Baduy datang. Dia datang untuk cuci muka, sikat gigi menggunakan siwak dan mencuci beras. Disamping itu kami melihat ada seorang ibu menggendong anak bayinya sambil memegang tangan anaknya yang masih kecil sedang berjalan naik anak tangga yang licin menuju ke dataran yang lebih tinggi, tentunya tanpa menggunakan alas kaki... Ada perasaan yang sulit untuk dijelaskan.

Untuk kesekian kalinya kami tersasar dan salah masuk rumah ketika kembali, maklum rumah disana kan sama semua begitu pula jalannya. Lalu bersiap untuk pulang sekitar pukul 07.30, tak lupa beli sedikit oleh-oleh buat di rumah, agak bingung sebetulnya karena rencana awal aku hanya ingin beli kain baduy yang asli dan bagus itu, tapi gak jadi karena mahal juga 300-400ribu harganya. Jadi aku cuma beli barang-barang yang beberapanya tak butuh waktu lama untuk lenyap: gelas bambu, madu dan gelang yang lenyap seketika.



Aku agak kecewa karena jadwal untuk mendengarkan cerita dari salah satu penduduk Baduy dalam (pak RT istilahnya) tidak jadi diselenggarakan, mengingat waktu yang sudah molor dan hujan turun, karena jadwal ini merupakan rangkaian acara yang paling penting untuk aku, dimana aku bisa menambah wawasan real mengenai Baduy dan mendapat informasi untuk tulisanku ini. Jadi mohon maaf aku gak bisa share lebih banyak tentang Baduy ini ya, seperti sejarahnya, dll.

Kami semua berkumpul dan mulai tracking lagi untuk turun ke bawah, ke Desa Ciboleger untuk pulang ke tempat asal masing-masing.

Track yang aku rasa akan jauh lebih mudah ternyata salah besar. Jalanan yang seringkali berbentuk turunan dan licin karena terkena air hujan juga cuaca yang tidak kondusif, hujan cerah hujan cerah, membuat perjalanan menjadi lumayan sulit, jatuh dan keseleo lalu jatuh lagi. Akhirnya aku dan beberapa orang memilih untuk naik ojek karena kami tidak sanggup untuk jalan sekitar satu jam lagi.

Sepanjang perjalanan pulang kami menemukan banyak sekali durian yang berjatuhan dari pohonnya, karena sedang musim durian, untung baunya tidak terlalu menyengat  entah karena kami sedang berada di hutan, jadi baunya tidak terlalu tercium, kalo enggak aku bisa mabok. Durian-durian ini biasa mereka jual sebagai tambahan penghasilan juga madu hutan, selain mata pencaharian asli mereka yaitu bertani.

                                                                                        ∞   

Setelah sampai di Desa, di titik pertemuan yang berbeda dengan ketika awal pergi ke Baduy, kami menyewa kamar mandi untuk bersih-bersih, sholat dzuhur dan makan di warung rumahan. 

Sekitar pukul 3 sore kami meneruskan perjalanan pulang dari dalam desa menuju Stasiun Rangkas Bitung menggunakan elf, kali ini 2 kali naik mobil elf. Mobil elf pertama berangkat dari dalam Desa menuju titik pertemuan yang sama seperti ketika awal kami pergi menuju Baduy, yaitu Desa Ciboleger yang ada tugunya. Mobil elf kedua berangkat dari desa ciboleger menuju Stasiun Rangkas Bitung.

Masuk kereta di Stasiun Rangkas Bitung, aku berpisah dengan teman-temanku yang berasal dari Jogja itu, juga berpisah kembali dengan Zam Zam. Naik kereta sendirian menuju Stasiun Tanah Abang. Menelusuri panjangnya kereta dari gerbong satu ke gerbong lainnya untuk mendapatkan tempat duduk yang layak bersama tas gunung yang sangat besar ini, akhirnya aku menemukan kursi kosong bersama salah satu perempuan yang juga ternyata merupakan teman satu trip Baduy tadi.

Sesampainya di Stasiun Tanah Abang, peron-peron penuh lautan manusia, “Ini kenapa orang banyak banget sih? mau naik eskalator aja sampe ngantri panjang banget.”. Walau gak bisa lari sebetulnya karena kaki keseleo sewaktu perjalanan pulang tadi, tapi aku tetap buru-buru keluar stasiun dan nyari abang ojek karena waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Pas abang ojeknya tau aku sedang  ngejar kereta, si abang langsung ngebut. Takut ketinggalan kereta bosku!

Kak Toto sudah menungguku di Stasiun Gambir dan akhirnya sampai juga di Bandung sekitar pukul 11 malam. Begitu datang di stasiun, aku langsung disambut oleh kedua orang tua dengan ekspresi wajah antara senang dan khawatir anaknya sakit dan gak ketinggalan disambut dengan insta story milik mama, “Ya ampun kayak abis dari mana aja deh..”.

                                                                                       ∞   




Pengalaman traveling kali ini pastinya gak akan aku lupa. Pertama kali main ke pedalaman untuk belajar budaya, ya walaupun terbilang masih main yang dekat-dekat aja. Menurutku, traveling kayak gini harus banget kamu rasain wahai kaum millenial, supaya kamu lebih bisa menghargai hidup, kembali lagi untuk menghargai perbedaan dan kesederhanaan juga tentunya mencintai alam.

Buat aku, main kayak gini gak cukup sekali aja, aku pengen banget explore budaya lebih banyak dan lebih jauh lagi, kira-kira kemana ya? Ada juga yang tertarik buat traveling kayak gini?

Yup, itu lah cerita explore budaya pertamaku. Semoga kalian suka dan maaf-maaf kalau ada salah kata atau penggunaan bahasa, mohon dikoreksi, mau ditambahin juga boleh, teruntuk travel blogger yang baca tulisanku ini, aku butuh sekali masukan hehehe

Sampai ketemu di explore budaya selanjutnya! :P

See ya!

11 komentar

  1. Seru banget bee.. sumpah gw dari dulu pengen banget ke Baduy. Harga per pax nya juga murah ya

    BalasHapus
  2. aku pengen ke baduuuuy, seru banget keliatannya

    BalasHapus
  3. wah serunya mbak, aku suka. Hiks, pengen berkunjung ke Baduy tapi belum dikasih ijin ama pak suami karena anak-anak gak ada yang jagain. Semoga suatu hari nanti bisa berkunjung kesini. aamiin

    BalasHapus
  4. Wah seru yaaa. Aku juga gak akan kepikiran wisata ke pedalaman2 gini kl ga baca cerita pengalaman tth. Ternyata patut dicoba nih..

    BalasHapus
  5. Seru banget travelling nya, jadi ingin juga merasakan langsung pengalamannya nih.

    BalasHapus
  6. Eyaampun, seru banget bisa main ke Baduy. Salah satu tempat impian aku sejak masih kuliah deh. Huhu, bisa gak ya main ke sana di usia aku yang sekarang? Ihiks :D

    BalasHapus
  7. Masha allah damai banget ya kayaknya main kesana pengalaman tak terlupakan pasti gin ya buat fisik dan spiritual hehehe

    BalasHapus
  8. akutuu gak sanggup kalo perjalanan gini-gini haha payah emang

    BalasHapus
  9. Ih aku penasaran banget pengen ke Baduy. Wisata budaya yang murah ya. Semoga nanti suami mau diajakin ke sini.

    BalasHapus
  10. di tunggu cerita selanjutnya, sukses ��

    BalasHapus
  11. hebat mbanya masih mau tau tentang baduy dalam

    BalasHapus

My Instagram