Press

Konser Monokrom Tulus


                                                               Photo from: @tulusm

Hi guys, welcome back.

Kali ini tumben-tumbenan tulisan aku menceritakan tentang konser.

Pertama kali nonton konser, karena biasanya nonton penyanyi atau band-band gitu cuma di acara-acara sekolah, seperti pensi dan inagurasi kampus.

Konser yang sudah dari beberapa bulan lalu aku tunggu. Penyanyi yang sudah sejak beberapa tahun lalu juga aku tunggu.

Bentar-bentar, nulis ini kok bawannya melow gini sih.. Efek lagu-lagunya Tulus kali ya.

Tulus lahir pada 20 Agustus 1987 di Bukittinggi. Alumni Universitas Parahyangan Bandung. Sejak kecil memang sudah suka bernyanyi. Sering tampil di berbagai macam acara kampus sebelum terkenal seperti sekarang. Kalo sekarang kayaknya hampir satu Indonesia tahu Tulus, deh.

“Album pertama saya, Tulus, itu yang suka kalian jadikan meme, kan. Tapi saya justu berterima kasih.” Sekilasnya begitu kata Tulus di sela-sela konser monokrom kemarin.

Inget banget, percakapan lucu waktu zaman SMA, awal-awal Tulus eksis, aku punya teman namanya Syifa, yang hampir setiap saat nyanyi lagu yang berjudul sewindu, lagu pertama Tulus yang membuatnya naik daun. Kurang lebih seperti ini:

“Si Sipa nyanyi lagu itu wae, gak bosen-bosen. Lagu siapa sih?” tanya aku penasaran.
“Lagu Tulus. Ih masa gak tau.” Jawab Syifa.
“Iya Tulus teh lagunya siapa?”
“Iya lagu Tulus...”
“Iya Tulus judulnya kan... Penyanyinya siapa??”
“IYA TULUUUUSS!”

Disitu pertama kali aku tahu penyanyi yang namanya unik ini dan tiba-tiba jadi suka juga lagu sewindu. Lalu setiap kali Syifa nyanyi lagu sewindu, aku dan teman-teman lain buru-buru ambil barang terdekat buat pura-pura main gitar dan main biola. Ter-konyol memang kalo sama mereka.

‘Monokrom’ merupakan album ketiga Tulus. Sebelumnya Tulus memiliki album yang bernama Tulus dan Gajah. Tulus juga sebelumnya pernah menyelenggarakan konser album Gajah di sabuga pada tahun 2014. Dulu belum pingin banget nonton konsernya dan emang gak tahu juga ada konsernya.

Sempat patah hati waktu gak jadi nonton konsernya gara-gara kelupaan dan kemahalan.

Makanya, waktu awal-awal tahu akan ada konser tunggal Tulus lagi, apalagi yang judulnya monokrom ini, aku gak sia-siain.

Tiba-tiba masuk grup whatsapp ‘Teman Tulus Bandung’, buat update news pastinya dan cari teman nonton, karena teman yang lain sudah keburu beli tiket konser tetangga.

Drama pun di mulai. Tiba-tiba lagi, ada akun instagram ‘Konser Monokrom Tulus’, yang kayaknya dalam satu hari followersnya naik ribuan. Langsung ikutan follow. Kecewanya aku, ternyata tidak diperbolehkan membawa kamera berbagai jenis apapun, hiks... maaf soal kualitas foto-fotoku disini ya.

Open ticket konser monokrom Tulus, dibagi menjadi 4 bagian. Presale 1, Presale 2, Presale 3 dan On The Spot. Tentu dengan harga yang berbeda. Presale 1 paling murah, presale 2 lebih mahal dan seterusnya. Harga yang paling murah 150rb di festival b dan c yang berdiri depan panggung tapi agak kepinggir wkwkwk dan paling mahal ya jutaan karena sambil meet n greet. Perbedaan per-presale sekitar 50-100 ribuan untuk tiket festival dan 200-300 ribuan untuk tiket VIP. Tiketnya dibeli secara online di salah satu website penjualan tiket.

Presale 1 dibuka sekitar sebulan sebelum tanggal konsernya, hari senin pukul 6 sore. Sambil kerja, sambil pantengin handphone dari jam 3. Begitu jam menunjukkan waktunya, aku langsung buka website tersebut. OMG! Tiket habis dalam waktu kurang lebih 5 menit. Sold Out. What the...

Grup mulai ribut, aku juga ikut ribut sih wkwkwk. Semua protes, gak percaya. Memang, rasanya mustahil tiket habis terjual hanya dalam kurun waktu 5 menit. Perasaan konsernya teteh Raisa kemarin, penjualan tiketnya gak gini-gini amat. Oke, kita siap berperang di Presale 2.

Presale 2 kembali di buka pukul 6 sore. Kali ini aku diam di mushola kantor, fokus mantengin handphone (tapi sholat dulu sih). “Kali ini gue musti dapet.”. Eng ing eng... tulisan sold out kembali muncul di setiap kolom penjualan tiket, presale dan VIP. Why Whyyyyy?? Aku kesal banget jujur.

Buru-buru update news di grup Teman Tulus Bandung yang setiap hari rame ini. Lagi ngetik pesan, tiba-tiba salah satu member bilang, “Eh cepet buka lagi, kayaknya dibuka lagi deh tiketnya.”, dengan sigapnya aku langsung buka lagi websitenya dan yes! Aku beli 2 tiket yang aku gak tahu satu tiket itu buat siapa hahaha dan langsung transfer sepulang kerja, sekitar jam 7 malam karena memang website hanya memberi waktu sekitar 2 atau 3 jam untuk transfer, kalau pembeli tidak segera melakukan transfer, tiket akan hangus dan langsung dijual kembali di website.

Ketika sudah berhasil melakukan transfer, admin website mengirimkan pesan via whatsapp yang menunjukkan bahwa pembelian tiketku sudah sah dan aku tinggal melakukan penukaran tiket online ke tiket aslinya, lalu langsung nonton, deh.



Alhamdulillah, aku gak harus rusuh lagi buat nyari tiket dan dari situ aku gak update banget lagi penjualan tiket di Presale 3. Sepenglihatan aku sih penjualan tiket di Presale 3 lebih lama habisnya, terutama tiket VIP karena mungkin harganya yang sudah mencapai harga paling mahal.

Hari sudah menunjukkan Selasa, 20 November 2018, penukaran tiket di buka mulai jam 10 pagi, sampai konser akan di mulai. Konser dimulai jam 8 malam dan open gate dibuka mulai jam 5 sore.

Pukul 3 sore aku sudah siap-siap untuk berangkat. Hujan datang tanpa permisi, padahal langit cerah.

Pukul 4 sore hujan masih juga turun, tapi katanya di Sabuga tidak hujan, jadi aku pikir ini hanya hujan lewat. Lalu, aku nekat sedikit pesan gojek dan pergi.

Begitu sampai parkiran Sabuga, loh kok kosong ya dan langsung disamperin sama banyak calo. Tapi begitu masuk ke pelataran Sabuga, wow! Ngantrinya luar biasa! Seperti ngantri sembako kayaknya.
Teman yang membeli tiket konser yang aku beli, yang juga sekaligus jadi teman nonton bareng tak kunjung datang. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 lebih, takut kebagian nonton di belakang.



Orang-orang antri sesuai antrian tiket yang dibeli, semua antri panjang banget. Aku bingung antrianku dimana. Sabuga ramenya bukan main, kayak lagi diadain wisudaan.

Setelah sholat maghrib, aku samperin Rahmi, ternyata dia sudah ngantri lumayan depan bareng Nadia. Gercep!



Disedian booth-booth buat selfie dan foto-foto.
Ternyata eh ternyata, begitu pintu masuk per-gate dibuka, penonton masuk tanpa diperiksa tiket atau wristbandsnya, cuma dilihat sekilas dari jauh karena penonton semua hectic dan antusias buat cepat-cepat masuk area panggung.

Untungnya aku berhasil masuk duluan dan dapat posisi nonton di depan, baris ketiga dari depan. Tapi ternyata, nonton di bagian festival itu gak se-enjoy yang aku pikirkan. Paling penuh, lumayan berdesakan, sampe mau nge-videoin aja susah. Beda sama Festival A yang berdiri depan panggung yang ternyata disana lumayan kosong. Pingin manjat pagar aja biar bisa nonton disana rasanya.

Dari awal aku memang berencana beli tiket festival A, tapi dapatnya susah banget, paling susah.

Para pemain orchestra mulai menaiki panggung. Konser di mulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, lalu Tulus masuk ke panggung dan meneruskan nyanyian-nyanyian lagunya, sambil diselingi cerita-cerita.




Beberapa lagu yang dibawakan diantaranya; Baru, 1000 tahun lamanya, Bumerang, Cahaya, Gajah, Jangan Cintai Aku Apa Adanya, Langit Abu-Abu, Mahakarya, Pamit, Monokrom, Ruang Sendiri, Sepatu, Sewindu, Teman Hidup, Tergila-Gila, Tukar Jiwa, Manusia Kuat dan sedikitinya lagu lain yang belum disebutkan, termasuk lagu terbaru, Labirin.
Beberapa Teman Tulus mendapatkan kesempatan untuk naik ke panggung.







Dalam konser ini Tulus sempat berkolaborasi dengan salah satu musisi Indonesia yang juga memiliki peran dalam karya bermusiknya dalam menulis lagu yaitu Petra Sihombing. Petra ikut bermain gitar dalam lagu Labirin.



Lagu lain yang bukan merupakan single dari Tulus juga sempat dinyanyikan. Diantaranya, bersama penyanyi keroncong senior Ibu Salut Waldjinah, Tulus menyanyikan lagu bengawan solo dan lagu yang merupakan soundtrack dari film doraemon, diiringi para pemain musik, sambil bercanda-bercanda.




Dua lagu yang paling menyentuh hati adalah ketika dinyanyikannya lagu Monokrom, suasana begitu hening, orang-orang seakan-akan masuk ke dalam alunan musik dan makna lagu tersebut.



“Lembaran foto hitam putih..                          “Kita tak pernah tahu..
  Aku coba ingat lagi..                                       Berapa lama kita diberi waktu..
  Wangi rumah di sore itu..                                Jika aku pergi lebih dulu..
  Kue coklat balon warna warni..                      Jangan lupakan aku..  
  Pesta hari ulang tahunku..                               Ini lagu untukmu.. 
                                                                          Ungkapan terima kasihku.."
"Dimanapun kalian berada..                                      
  Ku kirimkan terima kasih..              
  Untuk warna dalam hidupku..
  Dan banyak kenangan indah..
  Kau melukis aku..”

Beberapa orang sampai nangis, kalau gak malu juga aku nangis sih :)) Lagu ungkapan terima kasih untuk siapapun, orang tua, keluarga, teman, pasangan, kerabat kerja dan semua orang-orang yang kita sayangi, yang telah membantu kita dalam menjalani kehidupan penuh tantangan ini, yang tentunya tidak akan cukup diungkapkan dalam sebuah lagu.

Manusia kuat. Lagu yang Tulus buat dan dipersembahkan untuk wanita-wanita inspiratif, sekaligus menjadi closing konser monokrom Tulus kemarin, menyajikan pertunjukan yang luar biasa spektakuler sih kalau menurutku. Panggung penuh dikelilingi oleh para backing vocal atau entahlah apa itu disebutnya, dengan gerakan-gerakan yang menunjukan betapa kuatnya jiwa seorang manusia diiringi musik dan lampu-lampu panggung, bikin aku cuma bengong saking kagum dan takjubnya. Lebay sih, tapi emang kayak gitu yang aku rasain.



Selama ini dengar lagunya aja aku suka merinding, karena kata demi kata di lagunya dan musiknya yang buat orang tuh semangat dan berani bangkit, sampai jadi official lagu Asian Para Games 2018 kan.

Monokrom, Manusia Kuat, Mahakarya dan Pamit adalah lagu-lagu Tulus favorit aku. Makna dan pemilihan katanya dan alunan musiknya, seperti permainan biola di lagu Pamit, karena  aku memang suka musik biola.

Album monokrom ini kayaknya pas banget sama aku, karena monokrom merupakan warna aku, kesukaanku dan warna warna yang dipilih untuk album, video klip disini juga jadi warna-warna monokrom. Tapi sebenarnya dari awal, Tulus memang selalu memberikan warna-warna dasar di setiap karyanya. Dalam hal pakaian juga, kalau cowok kebanyakan gitu ya, hitam putih abu navy.

Belakangan lagu-lagu Tulus memang lebih inspiratif dan motivatif. Selain karena suaranya, hal ini yang membuat aku benar-benar jatuh hati sama Tulus dan orang-orang di belakang layarnya. Satu-satunya penyanyi Indonesia yang aku suka, kalau satu lagi, itu band sih.

Konser monokrom Tulus selesai sekitar jam 10.30 malam. Rasanya gak puas. Pingin nonton lagi. Kalau bahasa konsernya sih, WE WANT MORE!



Semoga sukses selalu buat Abang Tulus dan company. Selalu menginspirasi dan memberi karya-karya yang luar biasa hebat.

See you!

(Ps. visit my instagram post to watch some videos or click  https://www.instagram.com/p/BqmtvP-gaHt/ )


                                                              Photo from: @tulusm

1 komentar

My Instagram